KENABIAN DALAM PANDANGAN ABU BAKAR AR-RAZI
Ahmad Isa Pamuji/A2
(Prodi Studi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya Email: E71219038@student.uinsby.ac.id)
ABSTRAK
Nabi dan rasul adalah seorang manusia yang oleh Allah swt diberikan kemampuan untuk berhubungan dengan Allah dan mengekspresikan segala kehendak-Nya. Yang demikian merupakan puncak keistimewaan seorang Nabi ataupun rasul yang merupakan utusan Allah swt, dan juga yang membedakannya dengan mahluk Allah swt yang lainnya. Meskipun demikian, para Nabi dan Rasul Allah swt tetaplah manusia biasa seperti yang lainnya. Hanya saja mereka tidak sama karena mereka memang pilihan Allah swt untuk mengajak manusia kepada apa yang dikehendaki- Nya.
Islam sendiri sebagai agama wahyu memperoleh kekuatannya dari langit, dan melalui para nabi inilah kekuatan dan syariat itu disampaikan. Sumber hukum Islam semuanya berdasar pada Kitab dan Sunnah, dan keduanya merupakan wahyu yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul pilihan Allah swt. Namun, dengan berkembangnya wacana keagamaan dari masa ke masa, mendorong kalangan pemikir muslim untuk lebih dalam meneliti urgensi Nabi dan Rasul, karena dalam waktu yang bersamaan, Allah swt memberikan manusia anugerah akal yang dengannya manusia dianggap mencapai kesempurnaan.
Muhammad Ibn Zakariyya Ar-Razi adalah salah seorang intelektual muslim yang disebut sebagai salah seorang yang menentang adanya kenabian. Hal ini dibuktikan dengan pernyataannya bahwa akal mampu mencapai kebenaran, sehingga wahyu dan para rasul tidak lagi dibutuhkan, bahkan menjadi sesuatu yang tidak penting. Akan tetapi, tudingan ini menjadi tidak mendasar setelah banyaknya kutipan yang menyebutkan bahwa Ar-Razi justru banyak membela Islam dengan keyakinan yang kaffah.
Kata Kunci: Islam, Kenabian, ar-Razi
A. Pendahuluan
Nabi dan rasul tiada lain adalah seorang manusia yang diberi Allah kemampuan untuk berhubungan dengan Allah dan mengekspresikan segala kehendak-Nya. Dan inilah puncak keistimewaan seorang Nabi yang merupakan utusan Allah, yang tentunya keistimewaan ini pula yang membedakannya dengan makhluk Allah lainnya. Meskipun demikian, para Nabi Allah tetaplah manusia seperti yang lainnya. Hanya saja mereka tidak sama karena mereka memang pilihan Allah untuk mengajak manusia kepada apa yang dikehedaki-Nya. Dan Islam sebagai satu-satunya agama wahyu yang dengan keberadaan para nabi, mereka mengetahui dan mendapatkan petunjuk tentang segala hal yang berkaitan dengan Islam itu sendiri.
Muhammad Ibn Zakariyya Ar-Razi, salah seorang intelektual muslim disebut sebagai salah seorang yang juga menentang adanya kenabian. Dengan ucapannya yang mengatakan bahwa akal mampu mencapai kebenaran, maka turunnya wahyu dan juga kehadiran nabi menjadi suatu yang tidak penting. Namun, ditempat yang lain, al-Razi disebut sebagai orang yang banyak membela akidah Islam, termasuk dalam masalah kenabian, sehingga anggapan penentangan kenabian yang disematkan kepada diri al-Razi hanyalah merupakan serangan dari lawan-lawannya saja.
B. Pembahasan
Ar-Razi dikenal sebagai seorang dokter yang melebihi dokter-dokter selainnya pada zamannya. Karena sebelumnya memang Ar-Razi lebih dikenal sebagai orang yang mengggeluti ilmu falak, ilmu pasti, sastra dan kimia. Ar-Razi dikenal menguasai semua toeri medis klasik dan ditambahnya dengan unsure-unsur baru yang dicapainya melalui banyak eksperimen. Tetapi Ar-Razi tidak hanya seorang dokter dan ahli kimia saja, namun ia juga berorientasi kepada filsafat dan kemudian banyak juga menulis buku.
Kenabian dalam pandangan Ar-Razi, seperti yang sudah dibicarakan di awal, pada dasarnya belum didapatkan bukti valid yang menyebutkan bahwa Abu Bakar Ar-Razi adalah seorang yang mengingkari kenabian. Hal ini tidak lain karena kecenderungan yang mengarah kepada pernyataan tentang pengingkaran tersebut hanya didapatkan dari cuplikan-cuplikan dan riwayat-riwayat yang menjelaskan posisi Ar-Razi, namun tidak didapatkan teks asli yang menyebutkan mazhab Ar-Razi secara jelas. Yang mana dari teks-teks tersebut didapatkan bahwa Ar-Razi tidak mengimani kenabian. Adapun kritiknya terhadap kenabian didasarkan pada pertimbangan rasional dan historis.
BIBLIOGRAPHY
Zar, Sirojuddin, Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: Rajawali Press, 2007), 123-125.
Syarif, M.M, (Ed)., The History Of Muslim Philosophy, (New York: Dovers Publications, 1967), 434. Dikutip dari Sirojuddin Zar, Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: Rajawali Press, 2007), hlm. 113.
Ibid, hlm. 110.
Badawi, Abdurrahman, Sejarah Ateis Islam, Penyelewengan, Penyimpangan, Kemapanan, (Min Taariikh al Ilhaad fi al Islam), terj. Khoiron Nahdhiyyin, (Jogjakarta: LkiS, 2003), hlm. 214.
Komentar
Posting Komentar